Teguh Prasetyo Utomo Lulus Sertifikasi Gemini Certified Faculty

Peserta mengikuti pelatihan Sertifikasi Gemini Faculty tentang pemanfaatan AI dalam pendidikan tinggi di UII

Perkembangan kecerdasan buatan (AI) semakin membawa perubahan dalam dunia pendidikan tinggi. Tidak hanya dosen, tenaga kependidikan juga dituntut memiliki kemampuan untuk memahami dan memanfaatkan teknologi AI secara tepat, produktif, dan beretika. Semangat inilah yang menjadi bagian dari kegiatan Sertifikasi Gemini Faculty bagi Dosen dan Tenaga Kependidikan Universitas Islam Indonesia yang diikuti Teguh Prasetyo Utomo, S.I.Pust. pada Senin, 10 Agustus 2026.

Kegiatan yang diselenggarakan oleh HRD Universitas Islam Indonesia tersebut berlangsung pukul 08.00–12.00 WIB di Ruang Auditorium Fakultas Hukum Lantai 4, Gedung Fakultas Hukum, Kampus Terpadu UII.

Dalam kegiatan tersebut, Teguh tidak hanya mengikuti sesi pelatihan mengenai pemanfaatan Gemini dan teknologi AI dalam lingkungan pendidikan tinggi, tetapi juga mengikuti proses sertifikasi. Hasilnya, Teguh berhasil lulus dan memperoleh sertifikat Gemini Certified Faculty dari Google for Education.

Sertifikat tersebut menyatakan bahwa Teguh telah menunjukkan pengetahuan, keterampilan, dan kompetensi dasar yang diperlukan untuk menggunakan AI Google di lingkungan pendidikan tinggi. Sertifikat diterbitkan pada 10 Agustus 2026 dan berlaku hingga 10 Agustus 2029.

Mengenal Gemini Certified Faculty

Gemini Certified Faculty merupakan bagian dari program yang dirancang untuk membekali sivitas akademika dengan keterampilan memanfaatkan Gemini, Gemini Notebook, dan Google Workspace for Education secara efektif.

Materi pelatihan mencakup sejumlah topik penting, mulai dari konsep dasar AI dan Large Language Model (LLM), ekosistem Gemini, integrasi Gemini, fitur-fitur Gemini, teknik prompt engineering, hingga etika, privasi, dan kebijakan penggunaan AI dalam pendidikan.

Program tersebut tidak sekadar mengajarkan cara menggunakan sebuah aplikasi AI. Peserta juga diarahkan untuk memahami bagaimana teknologi tersebut dapat digunakan dalam aktivitas pembelajaran, pengajaran, penelitian, maupun peningkatan produktivitas pekerjaan di lingkungan perguruan tinggi.

Dengan demikian, sertifikasi ini menjadi salah satu bentuk pengakuan terhadap kemampuan dasar dalam memanfaatkan teknologi AI secara relevan dengan kebutuhan pendidikan tinggi.


Teguh Prasetyo Utomo mengikuti kegiatan Sertifikasi Gemini Faculty bersama dosen dan tenaga kependidikan UII



Dari Prompting hingga Etika Penggunaan AI


Salah satu bagian penting dalam pelatihan adalah teknik prompting. Kemampuan membuat instruksi yang tepat menjadi penting karena kualitas keluaran AI sangat dipengaruhi oleh bagaimana pengguna memberikan konteks, tujuan, dan arahan.

Peserta juga diperkenalkan dengan berbagai fitur Gemini for Education, termasuk Deep Research, Canvas, Gems, Guided Learning, kemampuan analisis gambar dan video, serta sejumlah fitur lain yang dapat mendukung aktivitas akademik dan pekerjaan.

Namun, penggunaan AI tidak berhenti pada persoalan kemampuan teknis.

Aspek etika dan privasi menjadi bagian penting dalam materi sertifikasi. Materi menekankan bahwa AI seharusnya digunakan sebagai pendukung untuk memunculkan ide dan mempercepat pekerjaan, bukan sebagai pengganti proses berpikir manusia. Setiap hasil AI juga perlu diverifikasi melalui sumber utama sebelum digunakan atau dibagikan.

Peserta juga diingatkan untuk tidak mengunggah data pribadi mahasiswa ke layanan AI publik serta tidak menjadikan hasil deteksi AI sebagai satu-satunya bukti dalam menentukan pelanggaran akademik.

Prinsip tersebut terasa penting bagi profesi yang berkaitan dengan informasi, termasuk pustakawan. Sebab, kemampuan menggunakan AI harus berjalan beriringan dengan kemampuan menilai informasi, memverifikasi sumber, menjaga privasi, dan memahami konteks penggunaannya.

AI untuk Mempercepat Pekerjaan Dosen dan Tenaga Kependidikan


Salah satu hal menarik dari pemanfaatan Gemini di lingkungan perguruan tinggi adalah peluang untuk meningkatkan efisiensi pekerjaan.

AI dapat membantu mengurangi beban pekerjaan rutin sehingga waktu dan energi dapat dialihkan untuk aktivitas yang membutuhkan pertimbangan, kreativitas, komunikasi, dan pengambilan keputusan manusia.

Dalam materi pelatihan, misalnya, diperkenalkan penggunaan Gems untuk membuat asisten AI dengan instruksi dan fungsi tertentu. Untuk dosen, salah satu contoh yang diberikan adalah Research Assistant yang dapat membantu proses penelitian, penulisan, publikasi, maupun memberikan masukan terhadap draf akademik.

Ada pula contoh Active Learning Designer yang dapat membantu dosen merancang aktivitas pembelajaran interaktif berdasarkan capaian pembelajaran, durasi kelas, dan jumlah mahasiswa.

Sementara bagi tenaga kependidikan, materi memberikan contoh AI Agent Layanan Wisuda dan Yudisium. Asisten tersebut dapat digunakan untuk memberikan jawaban cepat dan konsisten berdasarkan SOP, jadwal, serta persyaratan yang tersedia, sehingga pertanyaan rutin dapat ditangani secara lebih efisien.

Contoh-contoh tersebut menunjukkan bahwa AI tidak harus selalu dipandang sebagai teknologi yang rumit. Jika dirancang berdasarkan kebutuhan nyata, AI dapat menjadi asisten yang membantu menyelesaikan pekerjaan berulang.

Mendukung Produktivitas dan Kualitas Pembelajaran


Lulus Gemini Certified Faculty juga memiliki relevansi dengan peningkatan produktivitas kerja.

Pemanfaatan AI dapat membantu menyusun berbagai kebutuhan awal, seperti draf bahan ajar, materi presentasi, aktivitas pembelajaran, maupun dokumen pendukung pekerjaan. Namun, hasil tersebut tetap membutuhkan pemeriksaan dan penyempurnaan oleh manusia.

Dengan pola seperti ini, AI bukan pengganti profesional pendidikan, tetapi menjadi alat bantu yang dapat mempercepat proses kerja.

Bagi tenaga kependidikan, pendekatan serupa dapat diterapkan untuk berbagai pekerjaan administratif dan layanan. Pekerjaan yang bersifat rutin dapat dibantu oleh teknologi, sementara tenaga kependidikan dapat lebih banyak memberikan perhatian pada persoalan yang membutuhkan komunikasi, empati, dan penyelesaian kasus secara langsung.

AI Juga Membuka Peluang untuk Riset dan Publikasi


Bagi lingkungan akademik, salah satu potensi menarik dari AI adalah dukungannya terhadap kegiatan penelitian dan publikasi.

Pemanfaatan teknologi seperti Gemini dan NotebookLM dapat membantu pengguna memahami sejumlah dokumen dan sumber secara lebih efisien. Dalam konteks penelitian, teknologi tersebut dapat digunakan sebagai alat bantu untuk merangkum informasi, mengorganisasi gagasan, maupun membantu proses awal memahami literatur.

Namun, prinsip verifikasi tetap menjadi hal utama. AI tidak dapat menggantikan proses membaca sumber asli, menilai kualitas referensi, maupun mengambil keputusan akademik.

Karena itu, kompetensi AI justru perlu berjalan bersama dengan literasi informasi. Semakin mudah teknologi menghasilkan informasi, semakin penting pula kemampuan manusia untuk mempertanyakan, memeriksa, dan memastikan kebenarannya.


Sertifikat Pengajar Tersertifikasi Gemini atas nama Teguh Prasetyo Utomo dari Google for Education



Apa Manfaat Mendapatkan Sertifikasi Gemini Certified Faculty?


Bagi seorang dosen atau tenaga kependidikan, sertifikasi seperti Gemini Certified Faculty tidak hanya menjadi tambahan pada daftar pelatihan yang pernah diikuti. Ada sejumlah manfaat yang dapat dikembangkan dari kompetensi tersebut.

  1. Menambah Kredibilitas Profesional
    Sertifikasi memberikan pengakuan terhadap kompetensi dasar dalam menggunakan teknologi AI Google untuk lingkungan pendidikan tinggi.
    Pengalaman dan sertifikasi tersebut juga dapat menjadi bagian dari portofolio profesional, termasuk untuk mendokumentasikan perjalanan pengembangan kompetensi di bidang teknologi pendidikan dan AI.

  2. Meningkatkan Efisiensi Kerja
    Penguasaan Gemini dapat membantu mengotomatisasi atau mempercepat berbagai pekerjaan rutin. Mulai dari penyusunan draf dokumen, pengolahan informasi, pencarian ide, hingga pembuatan kerangka pekerjaan dapat dilakukan dengan bantuan AI sebelum kemudian diperiksa dan disempurnakan oleh pengguna. Integrasi dengan ekosistem Google Workspace for Education juga membuka peluang pemanfaatan AI dalam berbagai aktivitas yang sehari-hari sudah akrab dengan sivitas akademika. Materi pelatihan menegaskan bahwa Google Workspace for Education mengintegrasikan berbagai aplikasi seperti Gmail, Docs, Sheets, Drive, dan Meet.

  3. Mendukung Transformasi Metode Pembelajaran
    Bagi dosen, kompetensi Gemini dapat dikembangkan untuk menghasilkan bahan ajar dan aktivitas pembelajaran yang lebih kreatif. AI dapat digunakan sebagai mitra brainstorming untuk menemukan ide aktivitas kelas, menyusun studi kasus, maupun mengembangkan variasi pendekatan pembelajaran. Yang terpenting, keputusan akhir tetap berada di tangan dosen.

  4. Membantu Proses Riset dan Publikasi
    AI dapat menjadi alat bantu dalam berbagai tahapan penelitian dan publikasi, terutama pekerjaan yang membutuhkan pengolahan informasi dalam jumlah besar. Pengguna dapat memanfaatkannya untuk membantu memahami literatur, mengembangkan kerangka tulisan, melakukan penyuntingan bahasa, atau menyiapkan pertanyaan penelitian. Sekali lagi, pemanfaatannya harus ditempatkan sebagai alat bantu, bukan pengganti proses ilmiah.

  5. Membuka Peluang Kolaborasi dan Pengembangan Kompetensi
    Program Gemini Academy juga memperkenalkan peluang pengembangan komunitas melalui skema Gemini Academy Fellow. Dalam materi program, Fellow diarahkan untuk mendorong pemanfaatan Google Tools, khususnya Gemini dan Gemini Notebook for Education, di lingkungan akademik. Para Fellow juga diharapkan dapat berbagi praktik terbaik dan mendorong sivitas akademika untuk memanfaatkan teknologi tersebut secara relevan. Dengan demikian, kompetensi AI tidak berhenti pada individu yang mengikuti pelatihan, tetapi berpotensi berkembang menjadi gerakan berbagi pengetahuan di lingkungan kampus.

Sertifikasi Bukan Tujuan Akhir

Bagi Teguh Prasetyo Utomo, kelulusan dalam sertifikasi Gemini Certified Faculty lebih tepat dipandang sebagai awal dari proses belajar, bukan tujuan akhir.

Teknologi AI berkembang sangat cepat. Fitur yang dipelajari hari ini dapat berubah dalam waktu relatif singkat. Karena itu, sertifikat yang berlaku hingga 10 Agustus 2029 bukan berarti proses belajar tentang AI selesai sampai di sana.

Justru sebaliknya, sertifikasi tersebut menjadi pengingat bahwa profesional di lingkungan perguruan tinggi perlu terus memperbarui pengetahuan dan keterampilannya.

Bagi pustakawan, kebutuhan tersebut menjadi semakin relevan. Pustakawan bekerja dalam ekosistem informasi yang mengalami perubahan sangat cepat. Kemampuan memahami AI, menilai keluaran AI, memverifikasi informasi, serta mendampingi pengguna dalam menggunakan teknologi secara etis menjadi kompetensi yang semakin penting.

Pustakawan dan Tantangan Kompetensi AI

Perubahan teknologi tidak hanya menjadi urusan dosen atau tenaga kependidikan yang bekerja langsung dalam proses pembelajaran. Pustakawan juga berada di garis depan transformasi tersebut.

Perpustakaan perguruan tinggi merupakan bagian dari ekosistem pengetahuan. Ketika mahasiswa dan dosen menggunakan AI untuk menemukan, mengolah, dan menghasilkan informasi, pustakawan memiliki peluang besar untuk mengambil peran sebagai pendamping literasi AI dan literasi informasi.

Di sinilah kompetensi AI menjadi semakin menarik bagi profesi pustakawan.

Pustakawan tidak harus menjadi programmer untuk memahami AI. Namun, pustakawan perlu memahami bagaimana AI bekerja secara umum, apa potensinya, apa keterbatasannya, bagaimana memverifikasi hasilnya, serta bagaimana membantu pengguna menggunakannya secara bertanggung jawab.

Materi sertifikasi sendiri menempatkan AI Ethics, Privacy, dan Policies in Education sebagai salah satu cakupan penting dalam ujian Gemini Certified Faculty.

Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan menggunakan AI tidak dapat dipisahkan dari kemampuan menggunakannya secara etis.

Teguh Prasetyo Utomo memperoleh nilai 97 persen dan dinyatakan lulus sertifikasi Gemini Faculty



Dari Sertifikasi Menuju Praktik Nyata

Pada akhirnya, nilai sebuah sertifikasi tidak hanya terletak pada selembar sertifikat yang diperoleh setelah ujian.

Nilai sebenarnya muncul ketika pengetahuan tersebut diterapkan dalam pekerjaan sehari-hari.

Bagi Teguh Prasetyo Utomo, pengalaman mengikuti Sertifikasi Gemini Faculty Universitas Islam Indonesia menjadi bagian dari perjalanan pengembangan kompetensi profesional di tengah perubahan ekosistem informasi dan pendidikan tinggi.

AI dapat membantu mempercepat pekerjaan. AI dapat membantu menemukan ide. AI dapat membantu mengolah informasi. Namun, keputusan, tanggung jawab, etika, dan penilaian profesional tetap berada pada manusia.

Prinsip inilah yang menjadi penting untuk terus dibawa dalam pemanfaatan AI di perpustakaan maupun lingkungan perguruan tinggi.

Teknologi boleh semakin cerdas, tetapi profesional pendidikan dan informasi tetap harus semakin kritis, adaptif, dan bertanggung jawab.

Dengan lulusnya Teguh Prasetyo Utomo sebagai Gemini Certified Faculty, satu langkah pengembangan kompetensi AI telah dilalui. Langkah berikutnya adalah bagaimana kompetensi tersebut dapat diterjemahkan menjadi praktik nyata yang memberi manfaat bagi pekerjaan, layanan informasi, pembelajaran, dan ekosistem pengetahuan di perguruan tinggi.



Sertifikasi Gemini Faculty bagi dosen dan tenaga kependidikan Universitas Islam Indonesia di Auditorium Fakultas Hukum UII


Post a Comment

0 Comments