Pengelolaan Perpustakaan Berbasis Problem bersama Dr. Labibah Zain, MLIS

Ringkasan materi Library Lite Januari 2026 oleh Dr. Labibah Zain, MLIS di Perpustakaan UII

Lur, pernah nggak sih ngerasa kalau kegiatan perpustakaan itu jalan terus, tapi kok dampaknya ke pengguna kayak kurang kerasa? Pelatihan ada, sosialisasi ada, program juga rutin, tapi pertanyaan klasiknya tetap muncul: “Sebenernya perpustakaan ini ngaruh apa sih buat pengguna?”

Nah, kegelisahan semacam inilah yang jadi benang merah dalam kegiatan Library Lite Bulan Januari 2026 yang diselenggarakan oleh Direktorat Perpustakaan Universitas Islam Indonesia (UII). Kegiatan ini menghadirkan narasumber yang sudah tidak asing di dunia ilmu perpustakaan Indonesia, Dr. Labibah Zain, MLIS, yang membahas secara mendalam tentang perpustakaan berbasis problem, layanan berpusat pada pengguna, dan pentingnya mengukur dampak (impact).

Buat kamu yang kemarin belum sempat ikut Zoom-nya, tenang. Artikel ini saya tuliskan sedemikian rupa supaya kamu tetap bisa “ikut Library Lite” lewat bacaan, paham materinya, dan, yang paling penting, bisa langsung kepikiran buat diterapkan di perpustakaan masing-masing.


Perpustakaan Jangan Cuma Sibuk, Tapi Harus Menyelesaikan Masalah

Salah satu pesan kuat yang disampaikan Dr. Labibah Zain adalah soal pergeseran cara berpikir pustakawan. Perpustakaan hari ini tidak cukup hanya sibuk dengan aktivitas rutin.

Pertanyaannya bukan lagi:

“Kita sudah ngapain saja?”

Tapi bergeser menjadi:

“Masalah apa yang sedang dihadapi pengguna, dan apa peran perpustakaan untuk membantu menyelesaikannya?”

Inilah yang disebut sebagai perpustakaan berbasis problem.

Contoh masalah nyata yang sering terjadi:

  • Mahasiswa bingung cari jurnal internasional dari rumah.
  • Dosen punya akun database, tapi jarang dipakai.
  • Pengguna datang ke perpustakaan, tapi nggak tahu harus mulai dari mana.
  • Pelatihan sudah sering, tapi tetap saja pengguna balik lagi dengan masalah yang sama.

Menurut Dr. Labibah, program perpustakaan yang baik selalu lahir dari masalah pengguna, bukan sekadar dari agenda tahunan.


Dari Program Rutin ke Program Berbasis Kebutuhan Pengguna

Dalam Library Lite ini juga dibahas perbedaan penting antara:

  • Program berbasis aktivitas, dan
  • Program berbasis problem (kebutuhan pengguna)

Program berbasis aktivitas biasanya:

  • Ada karena “memang tiap tahun ada”
  • Fokus ke jumlah kegiatan
  • Sulit menjelaskan dampaknya ke pimpinan

Sedangkan program berbasis problem:

  • Lahir dari hasil survei atau keluhan pengguna
  • Fokus ke solusi
  • Lebih mudah diukur dampaknya
  • Lebih kuat untuk advokasi ke institusi

Intinya, bukan soal banyak-banyakan kegiatan, tapi seberapa relevan kegiatan itu dengan kebutuhan nyata pengguna perpustakaan.


User-Centred Services: Layanan dari Sudut Pandang Pengguna

Topik penting lain yang disampaikan Dr. Labibah Zain adalah user-centred services atau layanan yang benar-benar berangkat dari sudut pandang pengguna.

Kadang sebagai pustakawan kita merasa:

“Ah, ini kan sudah jelas.”

Padahal bagi pengguna, justru:

“Ini jelas di mana, ya?”

User-centred services menuntut pustakawan untuk:

  • Menggunakan bahasa yang mudah dipahami
  • Membuat panduan step-by-step
  • Mengurangi istilah teknis yang membingungkan
  • Menguji layanan ke orang yang bukan pustakawan

Kalau pengguna sering bertanya hal yang sama, menurut Dr. Labibah, itu bukan salah penggunanya, tapi sinyal bahwa layanan kita perlu disederhanakan.


Output, Outcome, dan Impact: Jangan Berhenti di Angka Kehadiran

Bagian ini menurut saya salah satu yang paling “nendang”.

Dr. Labibah mengingatkan bahwa perpustakaan sering terjebak di output, misalnya:

  • Jumlah pelatihan
  • Jumlah peserta
  • Jumlah modul

Padahal yang lebih penting justru:

  • Outcome: apakah pengguna jadi lebih mampu?
  • Impact: apakah ada perubahan nyata di institusi?

Contoh sederhananya begini:

  • Output: 50 mahasiswa ikut pelatihan akses jurnal
  • Outcome: mahasiswa bisa cari jurnal sendiri
  • Impact: kualitas tugas akhir dan publikasi meningkat

Di sinilah pentingnya pustakawan mulai mengumpulkan:

  • Data pemanfaatan
  • Cerita sukses pengguna
  • Testimoni dosen dan mahasiswa

Karena sering kali, satu testimoni yang kuat lebih bermakna daripada tabel statistik yang panjang.


Mengapa Ini Penting untuk Pustakawan?

Materi Library Lite ini relevan banget, terutama buat pustakawan yang:

  • Sedang menyiapkan akreditasi
  • Ingin memperkuat posisi perpustakaan di institusi
  • Merasa program perpustakaan kurang “dianggap”
  • Ingin naik level dari pustakawan teknis ke pustakawan strategis

Pendekatan berbasis problem dan impact membuat pustakawan lebih percaya diri saat bicara ke pimpinan, karena yang dibawa bukan asumsi, tapi data dan dampak nyata.


Ringkasan materi Library Lite Januari 2026 oleh Dr. Labibah Zain, MLIS di Perpustakaan UII


Kalau menurutmu artikel ini bermanfaat, monggo dishare ke grup pustakawan. Siapa tahu, satu bacaan ini jadi awal perubahan di perpustakaan kita masing-masing 😉

Post a Comment

0 Comments