Friday, 10 November 2017

[Opini] Mari Bergerak, Bergerak, dan Bergerak! (Sebuah Refleksi Pustakawan di Hari Pahlawan)


Selamat hari pahlawan 2017. Jika kita mengutip sebuah kalimat yang teramat populer dari salah satu founding father Negara Kesatuan Republik Indonesia, Ir. Soekarno, yaitu, "Bangsa yang besar, adalah Bangsa yang menghormati jasa para pahlawannya!" . Menghormati yang dimaksudkan oleh Bung Karno ini tentu saja bukan (sekedar) memberikan penghormatan secara formal, "Hormaaaaat... Grak...!" Tidak. Bukan itu. Akan tetapi penghormatan akan segala jasa para pahlawan dan segala yang telah diwariskan kepada kita sebagai hasil dari jerih payah - pedih perih - dan duka nestapa perjuangan mereka. Penghormatan dengan merawat dan menjaga bangsa dan negara ini. Penghormatan dengan meneladani untuk terus berjuang dan berjuang tiada henti (dalam dimensi dan situasi masa kini maunpun yang akan datang nanti) untuk semakin membesarkan dan mengangkat harkat, martabat dan derajat bangsa dan negara Indonesia ini.

Pustakawan dalam peranannya sebagai bagian dari bangsa dan negara ini memiliki peran besar untuk terus menjadi poros sejarah bangsa dan negara ini. Pustakawan merupakan poros informasi, yang harus terus dijalankan dari masa lalu, masa kini hingga ke masa yang akan datang. Jangan sampai generasi penerus bangsa saat ini lupa, bahwa kita merupakan bangsa yang memiliki sejarah yang teramat panjang. Kita adalah bangsa besar yang telah melalui banyak hal. Bangsa dan negara ini berdiri dengan perjuangan dan pengorbanan para pendahulu kita, yang kesemuanya teruntai dalam simpul-simpul sejarah yang merentang panjang melewati batas-batas masa. Terus merentang dari dulu, kini hingga nanti. Pustakawan memiliki peran besar dalam menjaga dan merawat simpul-simpul ini untuk generasi penerus bangsa, agar mereka tidak lupa.

"Jas merah, jangan sekali-sekali melupakan sejarah."

Pustakawan di era harus mampu berjuang dengan segenap kemampuan dan keilmuan yang dimilikinya. PR bangsa dan negara Indonesia ini masih sedemikian besarnya. Kesenjangan sosial masih saja terjadi. Pemerataan (kualitas) pendidikan masih jauh panggang dari api. Apalagi jika berbicara tentang membuminya literasi...

Pustakawan harus bergerak. Bergerak. Bergerak. Bukan hanya duduk di belakang meja. Akan tetapi juga terjun ke masyarakat. Menyatu. Membaur. Dan memberikan sesuatu perubahan yang baru yang lebih baik di dalam masyarakat. Blanded and embeded librarian adalah suatu keharusan. Bukan saatnya lagi seorang pustakawan adalah sebagai pribadi yang introvert atau penyendiri. Pustakawan masa kini harus terbuka. Terbuka dan membuka pikiran, membuka hati, membuka diri dan juga membuka pribadi. Bahkan pustakawan masa kini pun harus bisa (membaca dan) membuka peluang.  Demi survive-nya pustakawan di era yang semakin maju dengan teknologi informasi dewasa ini. Jangan sampai (profesi) pustakawan menemui ajalnya ketika berhadapan dengan era disrupsi yang saat ini mulai terjadi. Sebagai akibat dari pustakawan tidak bisa menyesuaikan diri dengan segala perubahan yang terjadi.

"Bacalah. Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan..."

Bukan hanya tentang membaca buku secara tekstual. Membaca perubahan zaman, adalah tugas terbesar dan terberat bagi seorang pustakawan. Pustakawan yang tidak tanggap dan tidak dong dengan segala perubahan yang terjadi, dapat dipastikan ia akan hilang tertelan bumi. Di era kompetis yang semakin menjadi, kebutuhan akan tingginya nilai kompetensi yang dimiliki oleh pustakawan merupakan suatu hal yang pasti. Maka tak heran sekarang pun mulai ada (atau diadakan) yang namanyan Pustakawan Tersertifikasi. Ini (mungkin) merupakan salah satu jalan untuk menjalankan seleksi (secara halus) kepada mereka (para pustakawan) yang tidak memiliki skill dan kompetensi. Para pustakawan yang hanya bisanya "itu-itu saja" dengan sendirinya akan tersingkir, akan tergusur oleh mereka yang memiliki skill dan kompetensi yang lebih mumpuni. Ini hukum alam yang pasti akan terjadi.

Mari bergerak! Bergerak! Dan bergerak..!

Bergerak adalah suatu tindakan nyata. Pustakawan harus bergerak. Bergerak dalam 3 dimensi. Dimensi pribadi, dimensi sosial dan dimensi spiritual. Bergerak, bergerak, dan bergerak..! Dalam dimensi pribadi, pustakawan harus selalu bergerak demi meningkatnya skill dan kompetensi yang ia miliki. Tidak hanya sebatas berpuas diri yang ada. Tidak hanya cukup dengan ijazah diploma atau sarjana. Dalam dimensi sosial, pustakawan harus bergerak (bersama) di dalam masyarakat di sekitarnya. Baik bersama masyarakat yang se-profesi dengannya (melalui organisasi profesi) maupun dengan masyarakat yang sebenarnya.

Tantangan terberat seorang pustakawan adalah ketika ia harus bergerak di masyarakat. Padahal inilah bagian nyata dari kontribusi seorang pustakawan. Pustakawan hanya akan menjadi pustakawan ketika ia hanya berkutat dengan buku, buku dan buku. Tapi pustakawan akan menjadi seorang (pahlawan) pelopor dan pembawa perubahan ketika ia bergerak bersama masyarakat, menyumbangankan ide, pemikiran dan tenaga dan apapun yang ia punya untuk perubahan dan kemajuan masyarakatnya.

Dan yang terahir adalah pustakawan harus bergerak di dalam dimensi spiritualnya. Apapun ahirnya, yang dilakukan pustakawan itu haruslah dikembalikan kepada Allah SWT, Tuhan Yang Maha Kuasa.
Karena dengan mengembalikan semuanya kepada Sang Maha Kuasa, apapun yang dilakukan pustakawan akan membawa kebaikan dan keberkahan. Ketika ia sukses bergerak di dimensi diri (dengan karier, pendidikan, dan kompetensi yang bagus) dan di dimensi sosial (mampu melakukan prubahan yang luar biasa di masyarakat), maka pustakawan tidak akan menjadi pribadi yang sombong dan berbesar kepala. Sebalikanya, jika pustakawan belum berhasil (baca : mengalami kegagalan) untuk bergerak di dimensi pribadi maupun di dimensi sosial, tidak lantas menjadikannya berkecil hati dan berputus asa.

Menjelang Ashar.
Yogyakarta. 10 November 2017

Post Comment

0 komentar:

Post a Comment