Ada satu hal yang menarik ketika berbicara tentang etika informasi. Banyak orang menganggapnya sebagai materi yang penuh teori, definisi, dan konsep yang dibahas di ruang kelas. Padahal, dalam dunia perpustakaan, etika informasi justru hadir dalam berbagai keputusan kecil yang dilakukan pustakawan setiap hari.
Pemikiran itu kembali mengemuka ketika Perpustakaan Universitas Islam Indonesia (UII) menerima kunjungan akademik dari mahasiswa Program Studi Ilmu Informasi dan Perpustakaan, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga pada Jumat, 12 Juni 2026. Sebanyak 85 mahasiswa hadir dalam kegiatan Praktik Kuliah Lapangan (PKL) untuk mata kuliah SIP239 – Etika Informasi, didampingi oleh Dr. Fitri Mutia, A.KS., M.Si. dan Ragil Tri Atmi, S.IIP., M.A.
Pada kesempatan tersebut, penulis (Teguh Prasetyo Utomo, S.I.Pust.) mendapatkan amanah untuk berbagi pengalaman mengenai etika informasi dari sudut pandang pustakawan. Sebuah topik yang mungkin terdengar akademis, tetapi sebenarnya sangat dekat dengan realitas pekerjaan sehari-hari di perpustakaan.
Dari Teori ke Praktik Nyata di Perpustakaan
Ketika sesi dimulai, muncul sebuah pertanyaan sederhana: bagaimana sebenarnya etika informasi diterapkan dalam layanan perpustakaan?
Pertanyaan ini menjadi pintu masuk untuk menjelaskan bahwa etika informasi bukan hanya soal memahami benar dan salah dalam mengelola informasi. Lebih dari itu, etika informasi berkaitan dengan tanggung jawab profesional pustakawan dalam melayani pengguna.
Dalam praktik sehari-hari, pustakawan sering berhadapan dengan berbagai situasi yang membutuhkan pertimbangan etis. Misalnya, bagaimana menjaga kerahasiaan data pemustaka, bagaimana memberikan akses informasi secara adil kepada semua pengguna, bagaimana menghormati hak cipta, hingga bagaimana memberikan layanan yang profesional tanpa membedakan latar belakang pengguna.
Hal-hal tersebut mungkin terlihat sederhana. Namun justru di sanalah etika informasi bekerja. Bukan dalam teori yang rumit, melainkan dalam keputusan-keputusan yang diambil setiap hari.
Melalui berbagai contoh kasus yang diambil dari pengalaman layanan di Perpustakaan UII, mahasiswa diajak melihat bagaimana prinsip-prinsip etika diterapkan dalam situasi nyata. Pendekatan seperti ini membuat diskusi menjadi lebih mudah dipahami karena mahasiswa dapat membayangkan langsung bagaimana tantangan tersebut muncul di dunia kerja.
Ketika Mahasiswa Mulai Bertanya Kritis
Bagian yang paling menarik dari kegiatan ini justru terjadi setelah sesi pemaparan selesai.
Satu per satu mahasiswa mulai mengangkat tangan. Pertanyaan yang muncul tidak hanya menunjukkan rasa ingin tahu, tetapi juga memperlihatkan kepedulian mereka terhadap berbagai persoalan informasi yang berkembang saat ini.
Ada yang bertanya tentang perlindungan data pribadi pengguna perpustakaan. Ada yang menyoroti penyebaran informasi yang belum tentu valid di media sosial. Ada pula yang mengaitkan etika informasi dengan perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) yang semakin banyak digunakan dalam pengelolaan informasi.
Diskusi pun berkembang menjadi sangat dinamis. Beberapa mahasiswa menyampaikan pandangan kritis mengenai tantangan yang mungkin dihadapi pustakawan di masa depan. Di sisi lain, para praktisi berbagi pengalaman mengenai berbagai dilema yang sering muncul dalam layanan informasi.
Momen seperti ini selalu menarik. Sebab, pembelajaran tidak lagi berjalan satu arah. Mahasiswa belajar dari pengalaman praktisi, sementara praktisi juga mendapatkan perspektif baru dari cara pandang generasi muda yang akan menjadi profesional informasi di masa mendatang.
Tantangan Etika Informasi di Era Digital
Perkembangan teknologi membuat akses informasi menjadi semakin mudah. Namun, kemudahan tersebut juga menghadirkan tantangan baru.
Saat ini, informasi dapat diproduksi, disebarkan, dan dikonsumsi dalam hitungan detik. Di tengah situasi tersebut, etika informasi menjadi semakin penting. Kemampuan menemukan informasi saja tidak cukup. Yang lebih penting adalah bagaimana informasi tersebut digunakan secara bertanggung jawab.
Bagi pustakawan, tantangan tersebut hadir dalam berbagai bentuk. Mulai dari menjaga privasi pengguna, mengelola data digital, mendukung literasi informasi, hingga memastikan bahwa layanan yang diberikan tetap menjunjung nilai-nilai profesionalisme.
Karena itu, pembahasan mengenai etika informasi tidak pernah kehilangan relevansinya. Justru seiring berkembangnya teknologi, kebutuhan akan kesadaran etis menjadi semakin besar.
Belajar Bersama untuk Menjadi Profesional Informasi yang Berintegritas
Kunjungan mahasiswa Universitas Airlangga ke Perpustakaan UII menjadi pengingat bahwa profesi pustakawan tidak hanya berbicara tentang buku, koleksi, atau teknologi informasi. Di balik semua itu terdapat tanggung jawab besar untuk menjaga kualitas, keadilan, dan integritas dalam layanan informasi.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya memperoleh gambaran tentang dunia kerja perpustakaan, tetapi juga memahami bahwa setiap keputusan yang diambil oleh pustakawan memiliki dimensi etis yang perlu dipertimbangkan.
Bagi penulis sendiri, kesempatan berdiskusi dengan mahasiswa selalu menjadi pengalaman yang menyenangkan. Pertanyaan-pertanyaan kritis yang mereka ajukan menunjukkan bahwa generasi calon pustakawan dan profesional informasi memiliki kepedulian yang tinggi terhadap isu-isu etika di era digital.
Semoga kunjungan ini tidak hanya menjadi bagian dari tugas perkuliahan, tetapi juga menjadi pengalaman belajar yang memberikan perspektif baru mengenai pentingnya etika informasi dalam profesi informasi dan perpustakaan. Karena pada akhirnya, teknologi dapat terus berubah, tetapi integritas dan tanggung jawab profesional akan selalu menjadi fondasi utama dalam layanan informasi.
Galeri Foto-foto Kegiatan
Penulis: Teguh Prasetyo Utomo, S.I.Pust. (Pustakawan Universitas Islam Indonesia)









.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)



0 Comments