Rahasia Digital Marketing Perpustakaan agar Layanan Lebih Dikenal dan Menarik

Poster webinar strategi digital marketing perpustakaan Deepublish dan Perpustakaan UNU Jogja 2026

Halo lur Pustakawan Jogja! 👋
Di era digital seperti sekarang, perpustakaan tidak cukup hanya memiliki koleksi yang lengkap dan layanan yang baik. Tanpa promosi yang tepat, berbagai potensi perpustakaan bisa saja tidak diketahui oleh pemustaka.

Hal inilah yang dibahas dalam webinar bertajuk “Strategi Digital Marketing untuk Meningkatkan Daya Tarik Perpustakaan” yang diselenggarakan oleh Deepublish bersama Perpustakaan Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Jogja pada Kamis, 12 Maret 2026.

Webinar ini menghadirkan dua narasumber yang berbagi pengalaman praktik langsung dalam mengelola promosi digital perpustakaan, yaitu:

  • Abdulloh Badruzzaman, S.T., M.T. – Kepala Perpustakaan UNU Jogja
  • Tia Dyan Wilujeng, S.IIP. – Pustakawan UNU Jogja

Keduanya membahas bagaimana perpustakaan dapat memanfaatkan media digital untuk meningkatkan keterlibatan pemustaka dan memperkuat citra institusi.


Apa Itu Digital Marketing untuk Perpustakaan?

Menurut Abdulloh Badruzzaman, digital marketing dalam konteks perpustakaan adalah:

strategi mempromosikan layanan, koleksi, dan kegiatan perpustakaan melalui media digital untuk menarik lebih banyak pengunjung dan meningkatkan pemanfaatan layanan.

Secara sederhana, digital marketing adalah bentuk promosi perpustakaan yang memanfaatkan media digital, seperti:

  • media sosial (Instagram, TikTok, Facebook)
  • website perpustakaan
  • blog
  • platform digital lainnya

Promosi ini tidak hanya bertujuan untuk memberi informasi, tetapi juga untuk meningkatkan keterlibatan pemustaka dengan perpustakaan.


Mengapa Perpustakaan Perlu Digital Marketing?

Banyak perpustakaan memiliki layanan yang baik, koleksi yang lengkap, dan kegiatan yang menarik. Namun jika tidak dipromosikan secara efektif, semua potensi tersebut bisa saja kurang diketahui oleh pengguna.

Ada dua alasan utama mengapa digital marketing penting bagi perpustakaan.

1. Perubahan Perilaku Pemustaka

Saat ini hampir semua orang sudah terhubung dengan internet. Website perpustakaan, OPAC, hingga media sosial menjadi sumber informasi yang sering diakses oleh pengguna.

Selain itu, perpustakaan juga harus mampu menjangkau Generasi Z, yaitu generasi yang tumbuh bersama teknologi digital.

2. Keuntungan Digital Marketing

Beberapa keuntungan memanfaatkan media digital antara lain:

  • meningkatkan kunjungan perpustakaan
  • memperluas jangkauan informasi
  • meningkatkan citra perpustakaan
  • membuka peluang kolaborasi dengan berbagai institusi

Dengan branding digital yang baik, perpustakaan bahkan bisa menjadi objek penelitian akademik maupun mitra berbagai kegiatan literasi.


Siapa Target Digital Marketing Perpustakaan?

Untuk perpustakaan perguruan tinggi, target utama promosi digital biasanya adalah:

  • mahasiswa
  • dosen
  • tenaga kependidikan
  • peneliti

Namun tidak hanya itu. Promosi digital juga dapat menjangkau:

  • masyarakat umum
  • komunitas literasi
  • pengguna eksternal yang membutuhkan akses informasi


Bagaimana Strategi Digital Marketing Perpustakaan?

Badruzzaman menjelaskan bahwa strategi digital marketing perpustakaan setidaknya mencakup empat aspek utama:

1. Menentukan Strategi

Strategi harus menjawab beberapa pertanyaan penting:

  • Apa tujuan promosi?
  • Siapa target audiensnya?
  • Platform digital apa yang digunakan?

Contohnya, perpustakaan dapat menggunakan Instagram atau TikTok untuk mempromosikan kegiatan literasi kepada mahasiswa.


2. Menentukan Identitas Visual

Identitas visual sangat penting agar konten perpustakaan terlihat profesional dan konsisten.

Beberapa elemen yang perlu diperhatikan:

  • logo
  • warna
  • font
  • desain konten
  • template postingan

Idealnya, desain konten perpustakaan mengikuti identitas visual lembaga induk agar tetap selaras dengan branding institusi.


3. Menyusun Jadwal Konten

Konten perpustakaan sebaiknya memiliki jadwal publikasi yang jelas.

Contohnya:

Konten harian

  • dokumentasi kegiatan perpustakaan

Konten mingguan

  • rekomendasi buku
  • review koleksi

Konten bulanan

  • webinar atau kampanye literasi

Konten tahunan

  • kegiatan orientasi mahasiswa baru
  • festival literasi

Dengan jadwal yang teratur, media sosial perpustakaan akan terlihat lebih aktif dan terkelola dengan baik.


Strategi Branding Media Sosial Perpustakaan

Tia Dyan Wilujeng menjelaskan strategi branding dan konten media sosial perpustakaan

Pada sesi berikutnya, Tia Dyan Wilujeng membahas tentang pentingnya branding digital bagi perpustakaan.

Menurutnya, branding yang kuat dapat membantu perpustakaan untuk:

  • membangun identitas institusi
  • meningkatkan visibilitas di ruang digital
  • menarik serta mempertahankan pemustaka
  • membuka peluang kolaborasi

Perpustakaan tidak lagi hanya dikenal sebagai tempat menyimpan buku, tetapi juga sebagai pusat informasi dan aktivitas akademik.


Permasalahan Umum Media Sosial Perpustakaan

Dalam praktiknya, masih banyak perpustakaan yang menghadapi beberapa kendala, seperti:

  • terlalu banyak platform tetapi tidak terkelola dengan baik
  • konten yang monoton dan kurang variatif
  • fitur media sosial tidak dimanfaatkan secara maksimal

Padahal jika media sosial dikelola dengan baik, dampaknya bisa sangat signifikan terhadap citra perpustakaan.


Platform Media Sosial yang Bisa Dimanfaatkan

Beberapa platform yang dapat digunakan oleh perpustakaan antara lain:

  • Instagram
  • Facebook
  • WhatsApp
  • TikTok
  • X (Twitter)
  • YouTube
  • LinkedIn
  • Threads

Pemilihan platform sebaiknya disesuaikan dengan karakteristik pengguna perpustakaan.


Ide Konten Media Sosial Perpustakaan

Agar media sosial perpustakaan lebih menarik, Tia Dyan juga membagikan beberapa contoh rubrik konten yang bisa dibuat:

POV (Point of View)
Konten perspektif pengguna perpustakaan.

Lebih Dekat
Mengenalkan fasilitas dan layanan perpustakaan.

News
Informasi terbaru terkait kegiatan perpustakaan.

Salam Dari
Ucapan hari nasional atau hari penting.

MTT (Modifikasi Tren Terkini)
Konten yang mengikuti tren media sosial.

Variasi konten seperti ini dapat meningkatkan engagement pengguna.


Mengelola Konten Media Sosial Perpustakaan

Pengelolaan konten juga membutuhkan manajemen yang baik. Salah satu alat yang digunakan di Perpustakaan UNU Jogja adalah Trello.

Platform ini membantu tim untuk:

  • mengelola ide konten
  • memantau progres pembuatan konten
  • mengatur jadwal publikasi

Dengan sistem kerja yang terorganisir, pengelolaan media sosial perpustakaan akan lebih efektif.


Kunci Branding Perpustakaan di Era Digital

Sebagai penutup, Tia Dyan menekankan dua prinsip penting dalam branding perpustakaan:

1. Konsistensi visual dan pesan

Konten harus mencerminkan identitas perpustakaan melalui keselarasan warna, tipografi, dan desain.

2. Kreativitas dan improvisasi

Branding di media sosial membutuhkan kreativitas serta kemampuan mengikuti perkembangan tren digital.


Sesi diskusi webinar strategi digital marketing perpustakaan bersama Deepublish dan Perpustakaan UNU Jogja

Penutup

Webinar ini memberikan gambaran bahwa digital marketing bukan lagi pilihan, tetapi kebutuhan bagi perpustakaan di era digital.

Dengan strategi yang tepat, perpustakaan dapat:

  • meningkatkan kunjungan pemustaka
  • memperluas jangkauan layanan
  • memperkuat citra institusi
  • membuka peluang kolaborasi

Bagi pustakawan, keterampilan digital marketing kini menjadi bagian penting dari pengembangan layanan perpustakaan yang lebih adaptif dan relevan. (tgh)

Post a Comment

0 Comments