Refleksi Hari Pendidikan Nasional 2019 : 3 Sesanti Ki Hadjar Dewantara Untuk Pustakawan Indonesia


Peringatan Hari Pendidikan Nasional atau yang acap kita kenal dengan sebutan singkat : HARDIKNAS, selalu menjadi agenda rutin setiap tahunnya. Berbagai kalangan, utamanya mereka yang bergelut di dunia pendidikan senantiasa memperingati HARDIKNAS ini. Kegiatan peringatan yang paling jamak kita lihat dan kita temui di momentum Hari Pendidikan Nasional ini adalah upacara. Ya, upacara peringatan Hari Pendidikan Nasional yang biasanya dilengkapi pula dengan pembacaan sambutan dari Presiden, Menteri Pendidikan, Gubernur, ataupun Bupati oleh Pembina Upacara yang bahkan tidak jarang selepas upacara kita lupa apa isinya.

Sehingga timbul pertanyaan, apa sebenarnya esensi dari (di)ada(kan)nya peringatan Hari Pendidikan Nasional ini? Bagaimana seharusnya kita memaknai peringatan Hari Pendidikan Nasional yang setiap tahun secara simultan kita jalani? Apalagi dalam konteks profesi kita sebagai seorang Pustakawan, apa yang bisa kita lakukan untuk dunia pendidikan di negeri kita tercinta ini?

Ki Hadjar Dewantara yang kita kenal sebagai Bapak Pendidikan Indonesia memiliki 3 sesanti yang sangat masyhur yang menjadi ruh di dalam dunia Pendidikan di negeri kita : Ing Ngarso Sung Tulodho, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani. Kebanyakan dari kita memaknai 3 sesanti ini hanya ditujukan bagi mereka yang secara langsung melakukan pengajaran kepada siswa di kelas-kelas, yaitu guru/dosen. Akan tetapi sebenarnya tidak. 3 sesanti Ki Hadjar Dewantara ini ditujukan bagi semua kalangan yang bergelut di dunia pendidikan, tak terkecuali Pustakawan.

Selama ini, peran pustakawan di dunia pendidikan terkesan masih sangat minim. Pustakawan hampir selalu dikesankan sebagai pemain belakang dan pelengkap semata. Bahkan tak jarang, ada atau tidaknya Pustakawan (dan Perpustakaan) banyak dianggap tidak ada pengaruhnya bagi berjalannya dunia pendidikan. Buktinya, kegiatan belajar mengajar (KBM) di suatu sekolah tetap berjalan tanpa adanya Pustakawan dan perpustakaan, misalnya. Hingga ahirnya banyak orang yang bertanya-tanya seperti apa, bagaimana dan sebesar apa sumbangsih Pustakawan bagi kemajuan dunia pendidikan di negeri kita. Bahkan mungkin di antara Pustakawan sendiripun masih bingung dan bertanya-tanya pula seperti apa kontribusi yang bisa mereka berikan untuk dunia pendidikan di negeri ini?

Pustakawan, (sebenarnya) memiliki peran dan kontribusi yang sangat besar bagi kemajuan pendidikan di negeri ini. Sebagai seorang manajer yang mengelola pusat ilmu pengetahuan dan informasi, seorang pustakawan menjadi juru kunci dari teralirkannya aliran ilmu pengetahuan dan segala informasi kepada seluruh insan dunia pendidikan. Ilmu pengetahuan dan informasi tanpa dikelola oleh tangan-tangan profesional yang bernama Pustakawan, ibarat bahan masakan yang dibiarkan terpuruk dan menumpuk di dapur kita yang ahirnya akan membusuk, tidak berguna, berbau dan bahkan bisa mengundang banyak kuman penyebab penyakit.

Kita bisa melihatnya dari sebuah analogi sederhana ini. Misal, seorang dokter yang “hanya” bisa memberikan resep, pustakawan ibarat seorang apoteker yang mengelola bahan, meracik obat dengan komposisi dan takaran yang pas, serta menyajikannya dengan dosis yang tepat sehingga pasien bisa kembali sehat dari sakitnya. Sehingga bisa kita pahami betapa sebenarnya pustakawan memiliki peran yang teramat vital di dalam dunia pendidikan kita. Pustakawan sebagai seorang professional memiliki tanggung jawab yang besar dalam mengelola, mengolah, meracik dan menyajikan ilmu pengetahuan dan informasi. Sehingga ilmu pengetahuan dan informasi itu dapat diterima dengan baik dan bisa didayagunakan oleh masyarakat yang membutuhkan, yang tentu saja jika ini berjalan dengan baik maka dunia pendidikan di negeri kita akan mengalami kemajuan yang luar biasa.

Kini sudah saatnya pustakawan menjadi pemain depan (Ing Ngarso Sung Tulodho) dalam dunia pendidikan di Indonesia. Bukan lagi sekadar pemain tengah (Ing Madyo Mangun Karso) apalagi hanya menjadi pemain belakang (Tut Wuri Handayani). Bukan berarti mengecilkan arti mereka yang berada di tengah dan di belakang. Tetapi kini giliran kita pustakawan, untuk bisa menjadi motor penggerak utama berputarnya roda pendidikan di negeri ini. Pustakawan harus berani melangkahkan kaki di barisan paling depan, tidak lagi malu-malu dan underconfident. Sehingga Pustakawan bisa menjadi garda terdepan kemajuan pendidikan dan peradaban di Indonesia.

Teguh Prasetyo Utomo
Direktorat Perpustakaan UII
Menjelang senja 03 Mei 2019

Post a Comment

0 Comments