[Opini] Hari Buku Sedunia (World Book Day) 2019 : Mendayagunakan Buku Sebagai Sumber Ilmu Pengetahuan dan Tonggak Kemajuan Peradaban Bangsa


Hari ini, 23 April 2019 merupakan Hari Buku Sedunia. Hari Buku Sedunia yang juga dikenal dengan Hari Buku Internasional atau juga dikenal dengan Hari Buku dan Hak Cipta Sedunia. Hari Buku Sedunia ini pertama kali dicanangkan oleh UNESCO (The United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization) dan dirayakan pertama kalinya pada 23 April 1995. Akan tetapi jika kita merujuk ke berbagai sumber yang ada, ide pringatan Hari Buku pertama kali tercetus pada tahun 1923 oleh sebuah toko buku di Catalonia, Spanyol. Ide dicetusnya peringatan Hari Buku Sedunia yakni oleh penulis Valencia, Vicente Clavel Andres, sebagai cara untuk menghargai penulis Miguel de Cervantes yang meninggal pada tanggal tersebut.

Selain itu dalam referensi lain juga disebutkan bahwa pengambilan tanggal 23 April sebagai Hari Buku Sedunia ini juga diambil dari peringatan hari kematian penulis terkenal dunia William Shakespeare dan Inca Garcilaso de la Vega, serta hari lahir atau kematian beberapa penulis terkenal dunia lainnya. Sampai dengan hari ini, peringatan Hari Buku Sedunia ini sudah berumur 24 tahun.

Di berbagai belahan dunia, peringatan Hari Buku Sedunia ini hampir pasti selalu diperingati, baik secara sederhana (seperti misal dengan membuat desain poster dan tulisan sederhana seperti ini), atau bahkan diperingati dengan meriah dan dengan acara tertentu seperti pengadaan lomba-lomba, dsb). Pun demikian halnya di negara kita ini. Indonesia sejak pertama kalinya melakukan peringatan Hari Buku Internasional pada 2006 lalu yang waktu itu diprakarsai oleh Forum Indonesia Membaca, didukung berbagai pihak seperti pemerintah, pengusaha, akademisi, komunitas, hingga masyarakat umum; hingga saat ini pun terus memperingati Hari Buku Sedunia.

Akan tetapi sudah cukupkah itu semua?

Buku (dan hari-harinya) bukan sekedar seremoni upacara peringatan. Lebih dari itu, esensi sebuah buku adalah sebuah kata, baca. Membaca merupakan ruh sebuah buku, dimana dari sebuah kata "baca" ini perubahan mendasar sebuah peradaban bisa terjadi. Ini bisa kita lihat bagaimana kondisi peradaban bangsa Arab pra-Kenabian Muhammad SAW yang waktu itu merupakan bangsa dengan peradaban yang berada pada titik paling nadhir. Bagaimana tidak? Pada waktu itu, yang kita kenal dengan jaman Jahiliyah (Jaman Kebodohan) itu manusia tega mengubur hidup-hidup anak-anak mereka. Hingga datanglah masa kenabian Muhammad SAW yang menjadi tonggak perubahan sejarah ini. Dengan apa itu?

Ya.. Betul... Dengan sebuah kata dari Tuhan Sang Maha Pencipta yang disampaikan kepada Muhammad SAW : "Bacalah".

Dan tahukah kita betapa dahsyatnya efek sebuah kata "bacalah" ini? Perubahan drastis kebudayan dan peradaban bangsa Arab terjadi. Dari yang semula adalah masa-masa kegelapan hingga menjadi masa-masa bergeliman cahaya pengetahuan-peradaban-kemajuan-kebenaran-kejayaan (minadz-dzulumati ilan-nuur). Yang bahkan cahaya itu berpendar melintasi jazirah Arab, keseluruh dunia. Melintasi ruang, waktu dan masa. Hingga saat ini dan bahkan (Biidznillah... dengan se-izin Tuhan Yang Maha Esa, Allah SWT) sampai ahir zaman nantinya.

Inilah sebenarnya esensi dari peringatan Hari Buku Sedunia. Untuk mengingatkan sekaligus menggerakkan kita untuk kembali dan selalu menyadari arti pentingnya membaca. Seperti pepatah mengatakan “Orang yang malas membaca, maka ia paling dekat dengan kebodohan, kebodohan paling dekat dengan kemalasan. Kemalasan paling dekat dengan kemiskinan”. Dari itu, membaca merupakan perintah khusus kepada manusia untuk mendalami ilmu pengetahuan.

Jika kita bercermin kepada negara tetangga Malaysia, Jepang, Eropa dan China, jauh lebih berkembang dibandingkan negara Indonesia yang jumlah penduduknya mencapai 266,79 juta jiwa (data PBB 2018). Sedangkan indeks perkembangan membaca di Indonesia hanya 0,009, Sementara kita melihat negara Jepang berindeks 156. Jangan salahkan orang Jepang kalau mereka lebih cerdas dan maju dalam teknologi. Jangan heran kalau produk-produk Jepang dapat menguasai pasar dunia, termasuk Indonesia. Dan jangan marah kalau negara kita sering "diakali" oleh negara Malaysia. Itu karena bangsa kita belum menunjukkan budaya yang peka terhadap ilmu pengetahuan.

Inilah mengapa begitu penting bagi kita untuk lebih peka terhadap dunia membaca. Dengan pengetahuan, kita bisa mengetahui dunia. Membaca mengajarkan kita bagaimana mengetahui alam berproses, mengajarkan kita untuk bisa berkembang menuju perbaikan yang lebih baik. Maka marilah momentum Hari Buku Sedunia ini bukan sekedar menjadi hari di mana diadakannya gegap gempita seremoni peringatan-peringatan yang berlalu tanpa makna. Tetapi mari jadikanlah momentum Hari Buku Sedunia hari ini, 23 April 2019 ini, sebagai hari di mana kita, terlebih kita ini adalah Pustakawan, bisa lebih mendayagunakan buku sebagai sumber ilmu pengetahuan dan tonggak kemajuan peradaban bangsa kita dengan cara : MEMBACA.

Menjelang Senja
Direktorat Perpustakaan UII
23 April 2019

Post a Comment

0 Comments