Saturday, 11 November 2017

Almaghfurllah KH Ishaq Latief. Mbah Yai Nyentrik Yang GEMAR MEMBACA


Sudah tidak kita pungkiri lagi bahwa peran ulama dalam pembentukan dan pembangunan bangsa dan negara ini sangat besar. Tidak bisa kita ingkari, bahwa (sebagaian besar) para pahlawan kemerdekaan bangsa Indonesia adalah para ulama. Dan hingga saat ini, di saat Negara Kesatuan Republik Indonesia telah merdeka, para ulama pun tiada henti memberikan kontribusinya kepada bangsa dan negara ini, secara langsung maupun tidak. Bahkan (Almagfurllah) KH Abdur Rahman Wahid atau yang akrab dengan nama Gus Dur, merupakan sosok ulama yang ahirnya manjadi umaro (Presiden RI).

Pun demikian dalam hal gerakan literasi, ulama-ulama Indonesia bahkan sudah melakukannya berabad-abad yang lalu. Tak terhitung lagi ulama-ulama Indonesia yang sudah melahirkan mahakarya berupa buku-buku pengetahuan Islam atau yang kita kenal dengan sebutan Kitab Kuning yang bahkan masih menjadi rujukan dunia internasional hingga saat ini, Salah satunya adalah Syaikh Nawawi Al-Bantani dengan banyak karya tulis beliau mulai dari Hasyiyah Tausyih ‘Ala Fathil Qarib al-Mujib (bidang Fikih) hingga Nashaihul ‘Ibad (bidang Akhlak dan Tasawuf).

Itu salah satunya. Dan dalam hal gerakan penumbuhan minat dan budaya baca pun, ulama-ulama kita pun tidak kalah luar biasa. Salah satunya adalah yang akan kita ulas kali ini, yaitu beliau Almaghfurllah Si Mbah KH Ishaq Latief. Yang tulisan ini Pustakawan Jogja kutip dari Website Nahdlatul Ulama.

"Dalam kebaikan, seyogyanya kita Berpartisi-sapi.”
 

“Berpartisi-pasi, Kiai...”
 

“Eh, yo ngono maksudku, Rek…”
 

“Haaa…” semua tertawa membahana. 

Demikian sedikit gambaran pengajian yang diampu almarhum Kiai Haji Ishaq Latief. Penuh joke-joke segar dan pelesetan bahasa-logika yang membuat suasana semakin cair. Hubungan santri dan kiai begitu akrab tanpa sekat. Kiai Ishaq berkata blak-blakan, sedangkan santri ikut menyahuti. Lebih dahsyat daripada stand up comedy dan terkadang lebih khidmat daripada forum seminar bertaraf nasional.

Pada tahun 2002 pengajian kitab kuning yang beliau asuh ba’da isya sudah berjalan rutin, entah sejak tahun berapa pengajian yang diikuti banyak santri itu dideklarasikan. Para santri tidak hanya bertempat di pusat lokasi pengajian yakni di gedung UKP lantai II, melainkan berhamburan sampai lapangan basket, depan kompleks (kini wisma) dan sebagian memilih di serambi masjid. Tempat terakhir ini menjadi favorit sebagian santri, karena di samping sejuk, mereka bisa sambil ngemil jajan dari kantin, bahkan dengan posisi tubuh selonjoran bebas. Tak sedikit pula mereka yang ketiduran bahkan sampai bedug ditabuh tanda adzan subuh segera berkumandang.


Suara speacker pengajian Kiai Ishaq menggema tidak hanya memenuhi areal Pesantren Tebuireng, melainkan sampai desa-desa tetangga. Tak sedikit pula, orang-orang yang sedang menempuh perjalanan berhenti mendengarkan pengajian beliau yang penuh hikmah dan canda. Bagi beliau, canda adalah obat jitu untuk mengusir rasa kantuk para santri. Maka tak ayal, beliau tidak segan-segan berpantun “Sami ugi sami mawon, bokong gede dientup tawon.”


Jika dihimpun banyak sekali aporisma atau kalam mutiara yang beliau slipkan di sela-sela pengajian. Quote anekdotik ini contohnya, “Ngono yo ngono Rek, ning yo ojo ngono…” (Begitu ya begitu, tapi ya jangan begitu). Kiai Ishaq salah satu sosok tokoh yang hampir serupa dengan Gus Dur dalam hal menghadapi permasalahan. Keduanya tidak pernah menganggap sebuah problem sebagai beban apalagi halangan, justru semua dianggap ringan dan sarana belajar. Hasilnya, masalah itu hilang dengan sendirinya dengan menemukan solusi terbaiknya. “Kita hanya bisa berusaha dan berdoa, sedangkan ketentuan hanya milik Allah,” tutur beliau.

Terbuka Namun Tertutup
 

Suatu ketika, saat menjadi tim redaksi cilik Majalah Tebuireng saya diamanahi oleh Redaktur Pelaksana, Ust. A. Mubarok Yasin, untuk menghimpun kisah-kisah tentang Kiai Idris Kamali. Pembina alumnus Lirboyo itu membekali saya secarik kertas sebagai panduan wawancara. Salah satu narasumber yang diutamakan adalah Kiai Ishaq. Saya yang ketika itu masih duduk di bangku Aliyah, kebingungan bagaimana mungkin bisa mengajak ngobrol kiai besar sekaliber Kiai Ishaq.
 

Akhirnya saya beranikan diri, meskipun penuh kekhawatiran, bahkan sampai di depan pintu kamar Kamah Condro Dimuko tubuh saya masih ndredek gemeteran. Saya sowan ke kamar beliau dan berterus terang menyampaikan maksud kedatangan. Alangkah bahagianya saya saat itu, seperti kejatuhan duren matang, proses wawancara berjalan dengan lancar. Beliau sangat welcome ditanya banyak tentang sosok guru tauladannya itu.

Namun belakangan, teman saya sesama redaktur bernasib nahas, ia ditolak wawancara oleh Kiai Ishaq karena hendak memuat profil beliau. Ya, Kiai Ishaq adalah sosok low profile, tidak mau diekspos. Hal ini sebagaimana adagium kitab Al-Hikam yang menjadi salah satu pegangan beliau, “Idfan wujudaka fil ardhil-khumul, fama nabata mimma lam yudfan la yatimmu natajuhu”  (Tanamlah wujudmu dalam bumi kesunyian, karena sesuatu yang tumbuh dari apa yang tidak ditanam, hasilnya tidaklah sempurna).


Seiring berjalannya waktu, atas inisiatif tim Pustaka Tebuireng yang dipimpin KH Salahuddin Wahid (Gus Sholah), transkip lengkap hasil wawancara dengan Kiai Ishaq dikembangkan. Akhirnya, jadilah sebuah buku biografi KH Idris Kamali. Buku itu  berjudul “Tokoh Besar di Balik Layar” ditebitkan oleh Pustaka Tebuireng tahun 2010.

Membaca Tanpa Lelah


Setiap Majalah Tebuireng terbit, Kiai Ishaq selalu ingin membacanya. Tak jarang, seorang santri beliau mendatangi kantor redaksi bertanya tentang edisi terbaru. Kami sadar bahwa Kiai Ishaq adalah kiai yang sangat haus akan ilmu dan informasi. Tidak hanya kitab-kitab kuning, media cetak seperti koran, tabloid, dan majalah menjadi konsumsi beliau setiap hari.


Saat berada di warung makan, beliau kerap menyempatkan diri membaca kitab atau majalah yang dibawanya. Waktunya tidak ingin terbuang sia-sia. Menunggu hidangan tersaji pun beliau gunakan untuk membaca. “Baca-baca kitab atau buku di warung nggak masalah, yang penting kan tidak mengganggu pelanggan yang lain,” ucap beliau suatu ketika.


Menurut informasi santri dekat beliau, Kiai Ishaq tidak pernah tidur setiap malamnya. Tak lain beliau gunakan untuk mutho’ah, membandingkan keterangan satu kitab dengan kitab lain yang saling berkaitan. Beliau memiliki koleksi kitab yang sangat variatif dari berbagai disiplin ilmu. Maka tak heran, ketika mengaji, beliau sering kali mengutip kitab-kitab besar, lengkap dengan halamannya. Inilah yang harus ditiru oleh santri-santri sekarang.


Terkadang beliau mengoreksi jika ditemukan typo atau kesalahan dalam penulisan teks kitab. Uniknya beliau tidak menyalahkan mushannif (penyusun kitab), atau percetakan yang mencetak kitab itu, akan tetapi beliau menduga koreksian beliau yang justru bisa jadi salah. Terbukti beliau selalu mengoreksi dengan imbuhan frase “la’alla shawab” (kemungkinan benar). 


Beliau memang perokok berat, namun saat mengaji berjam-jam lamanya, Kiai Ishaq enggan menyulut rokoknya satu batang pun. Menurut penuturan para alumni generasi tua, beliau merupakan sosok kiai yang modis dan necis. Di saat orang-orang jarang memiliki kendaraan, beliau telah memiliki sepeda motor bahkan sampai di usia sepuh beliau biasa ke mana-mana dengan mengemudikan motor besarnya, sedangkan santrinya justru dibonceng. Beliau juga pencinta berat sepakbola, wayang, lagu-lagu lokal dan hobi berwisata kuliner kelas menengah. Kebiasan unik seperti ini yang jarang dimiliki para kiai pada umumnya.

***

Kini kiai nyentrik asal Sidoarjo ini telah tiada. Kewafatannya pada hari Jumat 27 Februari 2015 membawa duka mendalam bagi kaum Nahdhiyin Jawa Timur, terlebih para alumnus Pesantren Tebuireng. Sampai akhir hayatnya (75), Kiai Ishaq Latief tetap setia membimbing para santri, mengabdikan diri untuk ilmu dan beribadah bahkan merelakan dirinya tidak berkeluarga.


Semoga Allah SWT mengampuni segala kesalahannya dan memberikannya tempat terbaik di surga, serta ilmu dan segala yang beliau dedikasikan bermanfaat fid din wad dunya wal akhirat. Amin.


*) Fathurrahman Karyadi, Penulis adalah lulusan Ma’had Aly Tebuireng dan editor bahasa di salah satu media online nasional di Jakarta.






Maka, mari kita teladani sosok beliau. Untuk menumbuhkan semangat dan budaya membaca, tidak perlu jauh-jauh.. Dimulai dari kita sendiri terlebih dahulu. Lha ngopo kok ngono? Jangan harap kita bisa menumbuhkan minat dan budaya membaca pada diri orang lain, ketika kita sendiri tidak memiliki kesadaran dan semangat serta kebiasaan membaca itu sendiri. ^_^ "Satu keteladanan lebih baik dari pada seribu nasihat" - Gus Mus.

**Semoga bermanfaat ^_^

Post Comment

0 komentar:

Post a Comment