Malang Voice : Sering Diremehkan, Ternyata Sarjana Perpustakaan Punya Banyak Peluang


Naaah ini dia kang mas dan mbak yu sekalian... Jawaban atas kegelisahan teman-teman soal Disrupsi kemarin (ingat to artikel yang Pustakawan Jogja tulis kemarin : Akibat Disrupsi, Profesi Pustakawan Takkan Ada Lagi (?)

Ini merupakan salah satu pengayem-ayem (penenang hati) bagi kawan-kawan dan dulur-dulur yang galau karena membaca artikel tentang disrupsi itu kemarin. ^_^ Why? Karena tidak dapat kita pungkiri, bahwa (setidaknya untuk saat ini dan beberapa tahun ke depan) profesi pustakawan di Indonesia (ingat, di Indonesia lho yaaaaa...) masih sangat besar peluang dan potensinya. Profesi pustakawan masih sangat-sangat banyak dibutuhkan. Salah satunya ulasan dalam artikel yang Pustakawan Jogja kutip dari MalangVoice.com ini.

Sering Diremehkan, Ternyata Sarjana Perpustakaan Punya Banyak Peluang

Sebagian orang masih menganggap profesi seorang pustakawan tampak sepele. Duduk saja di pojokan menjaga buku-buku perpustakaan, mencatat keluar masuk pinjaman, dan menyortir koleksi buku. Tak pelak mereka yang berkuliah mengambil jurusan Ilmu Perpustakaan sering diremehkan oleh teman dan kerabat. ‘Wah apa itu jurusan perpustakaan. Gak kanggo (gak berguna)!’ Begitulah kata yang sering didengar mahasiswa Ilmu Perpustakaan.

Tapi itu tidak menghalangi semangat Riska Amelia, lulusan program D3 Ilmu Perpustakaan Universitas Negeri Malang yang dinobatkan sebagai lulusan terbaik dalam wisuda ke-89 UM 2017, 14 Oktober 2017.

Gadis asli Malang ini, awalnya agak keberatan ketika harus masuk jurusan D3 Perpustakaan karena target awal adalah masuk ke Fakultas Sastra. Namun, Riska mantap mengambil jurusan itu lantaran jurusan Ilmu Perpustakaan ternyata cukup langka. Dan lagi, lulusanya banyak dicari dan memiliki peluang kerja yang besar. Buktinya Riska sebelum diwisuda, sudah bekerja sebagai pustakawan di SMP/SMA Islamic Boarding School di Kota Batu.

Serunya selama kuliah, lanjut Riska, dia dapat mempelajari banyak disiplin ilmu pengetahuan. Apalagi ketika menyeleksi buku, seorang pustakawan harus paham topik buku tersebut, dan kebermanfaatan isi buku kepada pembaca.

“Jika orang meremehkan, maka saya jelaskan bahwa seorang pustakawan tak hanya sekedar jaga buku, tapi kamu juga menentukan isi koleksi perpustakaan itu, dan juga kami belajar banyak hal. Selain itu kami juga ahli IT,” katanya optimis.

Riska pun sedikit mengkritik pelayanan dan fasilitas perpustakaan di Kota Batu. Menurutnya, lokasi perpustakaan umum di Balai Kota Among Tani masih belum menarik pembaca secara maksimal terutama kalangan anak-anak. Desain perpustakaan harus dibuat semenarik mungkin dan disediakan spot menarik khusus anak-anak.

“Promosi perpustakaan kota juga harus digalakkan. Selama ini karena lokasi perpustakaan umum ada di balai kota, pengunjung umum merasa segan alias sungkan untuk masuk ke sana,” tutur gadis kelahiran 1995 ini. (Der/Yei)


Riska saat ditemui MVoice di UM. (Anja Arowana)

Nah piye Lur? Masih galau? (Jangan salfok sama foto mbaknya lho yaaaaa...) Hehehhee...

***

Post a Comment

0 Comments